LifeStyle Fri, 28 Mar 2008 13:58:00 WIB
Sudah lama orang mencari "obat kuat" buat otak. Belakangan di kalangan ilmu penyakit tua (Geriatrics) bermunculan temuan bahwa otak bisa dipelihara potensinya dengan mengonsumsi beberapa jenis zat berkhasiat alami, maupun obat kimiawi. Seperti apakah?
Sudah lazim kalau fungsi otak semakin susut dengan bertambahnya umur. Pak Wir. pada umurnya yang lewat 70 tahun sering mengeluh kalau ia jadi sangat pelupa. "Apa saya sudah pikun, Dok?" ia bertanya. Tentu harus dijawab belum tentu begitu.
Kemampuan mengingat merupakan salah satu fungsi otak. Namun, lupa dan lupa bisa berarti dua. Mungkin cuma jenis lupa yang jamak pada usia lanjut (forgetfullness), atau bisa jadi betul sebuah kepikunan.
Tentu tidak semua orang berusia lanjut pasti pikun. Beberapa faktor penunjang berperan di sana. Faktor gen, misalnya, yang membuat jaringan otak sontak berubah jadi kisut seperti terjadi pada penyakit Alzheimer. Kasus penurunan fungsi otak lainnya boleh jadi lantaran otak tidak dijaga kebugarannya.
Normalnya, supaya tetap bugar, otak membutuhkan dua hal: aliran darah yang senantiasa lancar mengirimkan oksigen dan zat gizi. Untuk itu darah sendiri harus sehat, sel-selnya normal, dan cairan darahnya tidak mengental (tak beragregasi).
Kita tahu, aliran darah otak dipengaruhi juga oleh kekuatan jantung memompa darah, selain masih utuhnya pipa pembuluh darah otak. Menu harian bagus saja tanpa tekanan darah ke otak yang cukup, atau bila pipa pembuluh otak sudah tersumbat, tetap saja membuat otak kekurangan pasokan makan. Dalam hitungan menit, kekurangan pasokan oksigen ke otak membuat jaringan otak rusak dan mati, sehingga fungsi otak terganggu dan tidak lagi optimal.
Sebaliknya, pasokan darah ke otak cukup tetapi menu harian banyak kekurangan, sama-sama membuat sel otak tidak lagi bugar. Cara bernapas yang pendek, oksigen dalam udara yang kita hirup sudah tipis, banjirnya polusi udara, merupakan beberapa muasal yang bikin sel otak menjerit akibat sesak napas. Belum dihitung efek buruknya jika memilih menu harian yang minim jenis nutrisi buat makanan otak atau kekurangan zat pemasok bahan kimiawi penghubung antarsel otak (neurotransmitter).
Neurotransmitter
Kita sudah kenal hampir seratus jenis kimiawi neurotransmitter untuk sekian banyak fungsi otak. Kekurangan salah satu kimiawi penghubung antarsel otak ini berakibat fungsi otak terganggu. Setiap bagian fungsi otak diperankan oleh satu kimiawi vital ini.
Temuan baru-baru ini ihwal proses jatuh cinta pun, misalnya, kedapatan dipengaruhi oleh nuerotransmitter jenis dopamine. Ini sama dengan proses munculnya gangguan jiwa jenis obsesif-kompulsif (National Geographic, edisi Feberuari 2006).
Tahun 2000, ketika pemetaan otak (Human Brain Mapping) berhasil dibaca, ditemukan ada bagian otak (claustrum) yang diyakini sebagai pusat seks laki-laki (Brain G-Spot). Setiap kali laki-laki terangsang seks, claustrum otaknya jadi aktif, dan aliran darah ke sana meningkat. Temuan itu menjanjikan bakal terciptanya obat (kimiawi) yang mampu memicu bagian otak itu untuk bergiat, dan seks laki-laki lalu jadi bisa on terus.
Jauh sebelum itu, riset otak (setelah Presiden Bush menyatakan abad ke-20 sebagai Brain Age) juga menemukan pusat rasa takut, pusat kematian, pusat umur panjang di otak. Dengan temuan itu berarti ada harapan bioteknologi bakal mampu memanipulasi pusat-pusat di otak itu demi tujuan kesejahteraan umat manusia.
Kendati otak terpelihara baik, cemaran bisa juga mendera dari luar, dengan akibat yang lebih kurang sama. Radikal bebas yang membanjir dari udara, menu harian, dan gelombang elektromagnetik (telepon seluler, medan listrik, gelombang dari oven, layar monitor, dan alat elektronik lainnya) kian merongrong kehidupan orang modern. Ketajaman mental bisa menurun olehnya. Akibatnya, kemampuan mengingat, belajar, perhatian, konsentrasi, dan pengambilan keputusan, menjadi tidak lagi tajam.
Otak juga memerlukan pasokan zat gizi yang lengkap, khususnya zat besi, trace element selenium, selain grup vitamin B, dan omega-3 (DHA). Anemia kekurangan zat besi bisa menurunkan ketajaman kognitif, selain bisa terjadi gangguan mood, kecemasan, rasa letih berlebihan bila otak kekurangan mineral selenium.
Nootropics
Sudah disebut di atas, agar otak tetap bekerja normal diperlukan aliran darah otak yang optimal, dan pasokan oskigen dan makanan otak yang cocok. Dengan perkataan lain, metabolisme otak ditingkatkan.
Dari sekian temuan tentang makanan yang diperlukan otak, ternyata lebih sepuluh zat vital yang kedapatan sangat berperan, di antaranya phosphatidylserine yang selain meningkatkan fungsi kognitif, rasa sejahtera dan tampilan perilaku normal pun dibangkitkan. Dengan zat itu ketajaman mental meningkat.
Khasiat yang sama juga diperoleh dari zat vinpocetine (dari kecambah tanaman voaconga) yang banyak digunakan untuk kepikunan usia lanjut, yang kerjanya meningkatkan aliran darah ke otak, selain memperbaiki transpor gula ke sel otak. Lalu, ditemukan pula ginkgosides A-D dari daun ginkgobiloba yang berkhasiat meningkatkan aliran darah otak, selain memperbaiki impuls saraf otak.
Kita juga mengenal phenylalanine, bahan pembuat beberapa jenis neurotransmitter. Sementara carnitine diyakini sebagai antioksidan penghambat penuaan otak dan memacu beberapa neurotransmitter. Zat hydergine kedapatan juga mampu meningkatkan aliran darah otak.
Bahan-bahan di atas tergolong nootropics atau pemacu fungsi otak, dan kini kian banyak dimanfaatkan sebagai suplemen, selain dijadikan "obat" karena berkhasiat meningkatkan aliran darah otak, sekaligus pemasok makanan yang cocok buat otak, yang berarti meningkatkan metabolisme otak.
Tak Cukup Red-Pill
Riset ihwal bagaimana memori dibentuk di otak sudah berhasil dilacak. Ternyata beberapa zat berperan dalam pembentukan memori di otak. Periset Eric Kendel, penerima Nobel tahun 2000 (Memory Pharmaceutical) berhasil melacak kemampuan memori otak pada tingkat molekuler. Ia menemukan, ternyata zat AMP (Adenosinemonophosphate) memegang peran utama dalam pembentukan memori.
Lebih lanjut diketahui kalau jenis CREB (C-AMP response element binding protein) persisnya sebagai zat pembentuk memori. Lebih delapan buah perusahaan farmasi kemudian berlomba menciptakan zat pintar ini, sebagai kontraktor utama pembentukan ingatan pada otak manusia.
Sebetulnya sudah sejak tahun 50-an mulai ditelusuri kemungkinan menciptakan "obat" untuk mengatasi kehilangan memori otak akibat bertambahnya umur (age-related memory loss). Dari sana tercipta beberapa obat baru untuk menanggulangi kasus Alzheimer. Menyusul kemudian golongan obat piracetam, amiracetam, oxiracetam, pramiracetam sebagai peningkat spesifik kemampuan kognitif otak.
Jenis yang memengaruhi neurotransmitter otak diperankan oleh golongan linopirdine, physostigmin, sabeluzole, tacrine, vasopressine, amantadine, selain nikotin dan kafein. Dalam bahan herbal muncul jenis Ma-huang, oxymethanol, pyritinol, dan BR-16A.
Bahan-bahan berkhasiat tersebut yang kini diangkat sebagai "obat kuat" atau "pil merah" (sedang Viagra sebagai "obat kuat seks" dijuluki sebagai "pil biru"), yang kini ramai-ramai masuk ke pasar sebagai bahan penguat otak. Penguat di sini berarti menjaga kemampuan kognitif (mempertajam ingatan, perhatian, konsentrasi, solusi masalah, dan pengambilan keputusan).
Namun, satu hal tidak boleh lupa. Aliran darah otak yang lancar dan makanan otak yang cocok saja belum cukup kalau oksigen yang kita hirup masih tidak memadai. Kegiatan rutin olah napas menjadi bagian yang tak terpisahkan dari upaya membugarkan otak.
Hal lain bahwa bahan-bahan di atas, bukanlah menambah otak jadi lebih pintar. Kecerdasan itu ibarat sebuah gelas. Masing-masing orang memiliki gelas kecerdasannya sendiri yang diwarisi dari ayah-ibunya. Asuhan, pendidikan, dan pengalaman hidup yang akan mengisi gelas kecerdasan kita. Tergantung bagaimana sejak kecil kita diasuh dan dididik, gelas kecerdasan milik kita akan terisi penuh ataukah tidak, sehingga otak bisa tampil optimal.
Pemberian bahan berkhasiat, obat, makanan, minuman yang berisikan menu yang cocok buat otak, hanyalah menjaga keoptimalan agar gelas yang sudah terisi penuh itu tetap penuh, dan bukanlah memberi gelas kecerdasan baru yang lebih besar.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber: Senior
Senin, 25 Agustus 2008
Wi-Fi & Kesehatan
Wi-Fi & Kesehatan
LifeStyle Wed, 02 Apr 2008 08:14:00 WIB
Kemajuan teknologi internet sudah membawa kita ke zaman dimana pengaksesan informasi bisa dilakukan dengan mudah, bahkan kini tidak lagi terbatas pada penggunaan sambungan kabel dari komputer ke line telefon. Teknologi nirkabel jaringan lokal yang dikenal dengan istilah kerennya, wi-fi (Wireless Fidelity) itu juga kini semakin berkembang di banyak lokasi umum.
Dampaknya memang secara sekilas sangat positif, namun sebuah teknologi agaknya selalu punya ekses ke banyak aspek kehidupan diantaranya dipandang dari segi kesehatan.
Bila sebelumnya banyak yang membahas radiasi elektromagnetik dari banyak perangkat berbasis elektronik mulai dari komputer, ponsel bahkan alat-alat rumah tangga lainnya, belakangan ini yang mulai marak adalah dampak wi-fi ini terhadap radiasi yang ditimbulkannya bagi kesehatan, dan sama seperti teknologi sebelumnya, tentu masih banyak penelitian lanjutan yang dibutuhkan untuk memastikan hal tersebut, dan banyak pula cara untuk bisa berdamai demi mendapatkan manfaat maksimal dari teknologi itu tanpa harus mengorbankan sisi kesehatan kita.
Efek Radiasi Elektromagnetik Terhadap Kesehatan
Paparan cahaya yang intens termasuk yang ditimbulkan oleh sebuah radiasi elektromagnetik, dalam tubuh manusia akan berpengaruh paling banyak pada pembentukan hormon melatonin yang diproduksi kelenjar pineal di dalam otak, yang memang bersifat sensitif terhadap rangsang cahaya.
Ketidakstabilan melatonin ini bisa berdampak pada kelesuan, gangguan tidur, emosi, depresi hingga denyut jantung yang abnormal. Kehidupan kita sehari-hari belum dapat dilepaskan dari medan elektromagnetik yang dihasilkan dari sumber daya listrik seperti pembangkit dan jaringan transmisi-distribusinya, termasuk juga perangkat elektronik rumah tangga mulai dari lampu, penyejuk, multimedia dan peralatan masak elektrik.
Pengaruh ini biasanya berbanding lurus dengan tegangan yang dihasilkannya, dan tak jarang pula bersifat paparan lewat kontak berulang yang lama di sekitar perangkat-perangkat atau radiasi elektromagnetik lainnya.
Walau begitu, sebuah penelitian dari Perancis yang dimuat dalam sebuah jurnal kesehatan resmi menyebutkan kecil sekali kemungkinan adanya gangguan kesehatan atas radiasi dari alat-alat tersebut karena rata-rata intensitasnya masih berada di ambang yang cukup rendah.
Radiasi Elektromagnetik Wi-Fi
Publikasi tentang dampak negatif wi-fi sehubungan dengan radiasi elektromagnetik yang ditimbulkannya ini awalnya datang dari sebuah kasus yang dialami seorang wanita di London, yang datang ke institusi kesehatan dengan keluhan nyeri di bagian kepala, telinga, tenggorokan dan beberapa bagian tubuh lain bila berada dekat dengan peralatan elektronik atau menara pemancar.
Perangkat elektronik, memang memiliki radiasi elektromagnetik dimana dalam jumlah besar bisa mengakibatkan gangguan fisiologis hingga memicu pertumbuhan sel-sel abnormal seperti kanker, namun intensitasnya berbeda-beda dan ada patokan batas aman yang dianggap tidak sampai membahayakan kesehatan.
Atas keluhan ini berikut anjuran dokter yang mendiagnosanya sebagai suatu keadaan elektrosensitif, wanita tadi melindungi rumahnya dengan perangkat khusus antiradiasi untuk meminimalkan gelombang elektromagnetik dari teknologi wi-fi di sekitar tempat tinggalnya.
Beberapa publikasi lanjutan tentang dampak radiasi wi-fi ini kemudian dilansir di Swedia langsung dari pemerintahnya serta di Norwegia lewat pernyataan perdana menterinya sendiri.
Lagi-lagi, kemungkinan pemberitaan yang awalnya banyak beredar di dunia maya ini sempat dianggap sebagai hoax, suatu berita isu yang belum bisa diyakini kebenarannya, namun adanya beberapa penelitian yang dilaporkan dari institusi resmi mungkin mulai membuat beberapa pihak bersangkutan mulai memikirkan hal ini.
Sebagian laporan resmi tersebut menyebutkan tingginya intensitas radiasi elektromagnetik di beberapa situs lokasi wi-fi, namun tak sedikit juga yang melaporkan bahwa intensitas tadi masih berada di bawah ambang batas senilai dengan radiasi elektromagnetik yang dihasilkan oleh beberapa perangkat yang aman seperti televisi maupun radio, begitupun, kesimpang-siuran ini jelas menimbulkan suatu kekhawatiran bagi sebagian orang yang sangat perduli dengan kesehatannya, belum lagi pengakuan sejumlah aktifis di luar negeri yang bergabung untuk mendesak pembatasan penggunaan wi-fi, yang bagi sebagian masyarakat lain sangat diperlukan itu.
Beberapa kampus di negara-negara maju malah sudah ikut melarang penggunaan teknologi ini di sekitar lingkungan pendidikan mereka, meski belum ada kejelasan akan bahayanya.
Benarkah Berbahaya?
Banyaknya publikasi dari pengaruh radiasi elektromagnetik situs-situs umum penyedia wi-fi tadi turut juga memuat kekhawatiran mereka yang dialamatkan lebih ke penggunaan perangkat komputer dan juga usia penggunanya. Di luar masalah kesensitifan masing-masing individu terhadap radiasi elektromagnetik ini, sebagian ahli menyebutkan bahwa anak-anak jauh lebih sensitif dibandingkan dengan usia dewasa.
Pihak Health Protection Agency, Inggris, yang baru-baru ini membuat publikasi resmi pada sebuah program BBC bahwa dampak negatif ini sama sekali belum dapat dibuktikan dan pendapat ini didukung juga oleh sebuah institusi riset kesehatan telekomunikasi disana, dengan argument bahwa pemancar yang digunakan untuk teknologi ini sebenarnya berkekuatan sangat rendah dan tetap ada jarak dengan tubuh yang membuat radiasinya juga berlangsung dalam intensitas yang sangat rendah meski nilai yang mereka dapatkan berjumlah sekitar tiga kali lebih besar dari radiasi penggunaan ponsel biasa.
Mereka menekankan lebih lanjut bahwa bukan radiasi wi-fi lah yang menjadi masalah melainkan cara penggunaan komputer terutama laptop yang sering diletakkan di pangkuan hingga tak lagi memiliki jarak dengan tubuh.
Gelombang radio elektromagnetik yang digunakan untuk teknologi wi-fi, menurut mereka lagi berada ratusan kali lebih rendah dibandingkan sebuah microwave dan ambang batas yang ditentukan para ahli, dan meski masih terdeteksi adanya thermal interaction berupa kenaikan level temperatur jaringan tubuh, namun nilainya masih jauh dari ambang batas yang bisa mengakibatkan kerusakan.
Pendapat ini diperkuat lagi oleh beberapa institusi lain yang rata-rata mendapat hasil jauh lebih rendah daripada sinyal ponsel ketika digunakan untuk berbicara.
Hasil yang mereka laporkan, berada selama setahun di sekitar lokasi wi-fi sebanding dengan penggunaan ponsel dalam keadaan bicara selama 20 menit.
Bila kekhawatiran akan radiasi ponsel saja masih banyak diperdebatkan, maka wi-fi sama sekali mereka anggap belum pantas mengundang kekhawatiran tersebut.
Begitupun, mereka juga tetap menganjurkan untuk menggunakan teknologi ini dalam batas wajar sekaligus memperhatikan penggunaan perangkat komputer yang juga memiliki intensitas radiasi elektromagnetik yang berbeda-beda.
Paling tidak, penggunaan dalam batasan wajar ini bisa mencegah pengaruh buruk terhadap kesehatan yang bisajadi kepastiannya baru ditemukan dalam tahun-tahun mendatang.
Sumber: CBN
LifeStyle Wed, 02 Apr 2008 08:14:00 WIB
Kemajuan teknologi internet sudah membawa kita ke zaman dimana pengaksesan informasi bisa dilakukan dengan mudah, bahkan kini tidak lagi terbatas pada penggunaan sambungan kabel dari komputer ke line telefon. Teknologi nirkabel jaringan lokal yang dikenal dengan istilah kerennya, wi-fi (Wireless Fidelity) itu juga kini semakin berkembang di banyak lokasi umum.
Dampaknya memang secara sekilas sangat positif, namun sebuah teknologi agaknya selalu punya ekses ke banyak aspek kehidupan diantaranya dipandang dari segi kesehatan.
Bila sebelumnya banyak yang membahas radiasi elektromagnetik dari banyak perangkat berbasis elektronik mulai dari komputer, ponsel bahkan alat-alat rumah tangga lainnya, belakangan ini yang mulai marak adalah dampak wi-fi ini terhadap radiasi yang ditimbulkannya bagi kesehatan, dan sama seperti teknologi sebelumnya, tentu masih banyak penelitian lanjutan yang dibutuhkan untuk memastikan hal tersebut, dan banyak pula cara untuk bisa berdamai demi mendapatkan manfaat maksimal dari teknologi itu tanpa harus mengorbankan sisi kesehatan kita.
Efek Radiasi Elektromagnetik Terhadap Kesehatan
Paparan cahaya yang intens termasuk yang ditimbulkan oleh sebuah radiasi elektromagnetik, dalam tubuh manusia akan berpengaruh paling banyak pada pembentukan hormon melatonin yang diproduksi kelenjar pineal di dalam otak, yang memang bersifat sensitif terhadap rangsang cahaya.
Ketidakstabilan melatonin ini bisa berdampak pada kelesuan, gangguan tidur, emosi, depresi hingga denyut jantung yang abnormal. Kehidupan kita sehari-hari belum dapat dilepaskan dari medan elektromagnetik yang dihasilkan dari sumber daya listrik seperti pembangkit dan jaringan transmisi-distribusinya, termasuk juga perangkat elektronik rumah tangga mulai dari lampu, penyejuk, multimedia dan peralatan masak elektrik.
Pengaruh ini biasanya berbanding lurus dengan tegangan yang dihasilkannya, dan tak jarang pula bersifat paparan lewat kontak berulang yang lama di sekitar perangkat-perangkat atau radiasi elektromagnetik lainnya.
Walau begitu, sebuah penelitian dari Perancis yang dimuat dalam sebuah jurnal kesehatan resmi menyebutkan kecil sekali kemungkinan adanya gangguan kesehatan atas radiasi dari alat-alat tersebut karena rata-rata intensitasnya masih berada di ambang yang cukup rendah.
Radiasi Elektromagnetik Wi-Fi
Publikasi tentang dampak negatif wi-fi sehubungan dengan radiasi elektromagnetik yang ditimbulkannya ini awalnya datang dari sebuah kasus yang dialami seorang wanita di London, yang datang ke institusi kesehatan dengan keluhan nyeri di bagian kepala, telinga, tenggorokan dan beberapa bagian tubuh lain bila berada dekat dengan peralatan elektronik atau menara pemancar.
Perangkat elektronik, memang memiliki radiasi elektromagnetik dimana dalam jumlah besar bisa mengakibatkan gangguan fisiologis hingga memicu pertumbuhan sel-sel abnormal seperti kanker, namun intensitasnya berbeda-beda dan ada patokan batas aman yang dianggap tidak sampai membahayakan kesehatan.
Atas keluhan ini berikut anjuran dokter yang mendiagnosanya sebagai suatu keadaan elektrosensitif, wanita tadi melindungi rumahnya dengan perangkat khusus antiradiasi untuk meminimalkan gelombang elektromagnetik dari teknologi wi-fi di sekitar tempat tinggalnya.
Beberapa publikasi lanjutan tentang dampak radiasi wi-fi ini kemudian dilansir di Swedia langsung dari pemerintahnya serta di Norwegia lewat pernyataan perdana menterinya sendiri.
Lagi-lagi, kemungkinan pemberitaan yang awalnya banyak beredar di dunia maya ini sempat dianggap sebagai hoax, suatu berita isu yang belum bisa diyakini kebenarannya, namun adanya beberapa penelitian yang dilaporkan dari institusi resmi mungkin mulai membuat beberapa pihak bersangkutan mulai memikirkan hal ini.
Sebagian laporan resmi tersebut menyebutkan tingginya intensitas radiasi elektromagnetik di beberapa situs lokasi wi-fi, namun tak sedikit juga yang melaporkan bahwa intensitas tadi masih berada di bawah ambang batas senilai dengan radiasi elektromagnetik yang dihasilkan oleh beberapa perangkat yang aman seperti televisi maupun radio, begitupun, kesimpang-siuran ini jelas menimbulkan suatu kekhawatiran bagi sebagian orang yang sangat perduli dengan kesehatannya, belum lagi pengakuan sejumlah aktifis di luar negeri yang bergabung untuk mendesak pembatasan penggunaan wi-fi, yang bagi sebagian masyarakat lain sangat diperlukan itu.
Beberapa kampus di negara-negara maju malah sudah ikut melarang penggunaan teknologi ini di sekitar lingkungan pendidikan mereka, meski belum ada kejelasan akan bahayanya.
Benarkah Berbahaya?
Banyaknya publikasi dari pengaruh radiasi elektromagnetik situs-situs umum penyedia wi-fi tadi turut juga memuat kekhawatiran mereka yang dialamatkan lebih ke penggunaan perangkat komputer dan juga usia penggunanya. Di luar masalah kesensitifan masing-masing individu terhadap radiasi elektromagnetik ini, sebagian ahli menyebutkan bahwa anak-anak jauh lebih sensitif dibandingkan dengan usia dewasa.
Pihak Health Protection Agency, Inggris, yang baru-baru ini membuat publikasi resmi pada sebuah program BBC bahwa dampak negatif ini sama sekali belum dapat dibuktikan dan pendapat ini didukung juga oleh sebuah institusi riset kesehatan telekomunikasi disana, dengan argument bahwa pemancar yang digunakan untuk teknologi ini sebenarnya berkekuatan sangat rendah dan tetap ada jarak dengan tubuh yang membuat radiasinya juga berlangsung dalam intensitas yang sangat rendah meski nilai yang mereka dapatkan berjumlah sekitar tiga kali lebih besar dari radiasi penggunaan ponsel biasa.
Mereka menekankan lebih lanjut bahwa bukan radiasi wi-fi lah yang menjadi masalah melainkan cara penggunaan komputer terutama laptop yang sering diletakkan di pangkuan hingga tak lagi memiliki jarak dengan tubuh.
Gelombang radio elektromagnetik yang digunakan untuk teknologi wi-fi, menurut mereka lagi berada ratusan kali lebih rendah dibandingkan sebuah microwave dan ambang batas yang ditentukan para ahli, dan meski masih terdeteksi adanya thermal interaction berupa kenaikan level temperatur jaringan tubuh, namun nilainya masih jauh dari ambang batas yang bisa mengakibatkan kerusakan.
Pendapat ini diperkuat lagi oleh beberapa institusi lain yang rata-rata mendapat hasil jauh lebih rendah daripada sinyal ponsel ketika digunakan untuk berbicara.
Hasil yang mereka laporkan, berada selama setahun di sekitar lokasi wi-fi sebanding dengan penggunaan ponsel dalam keadaan bicara selama 20 menit.
Bila kekhawatiran akan radiasi ponsel saja masih banyak diperdebatkan, maka wi-fi sama sekali mereka anggap belum pantas mengundang kekhawatiran tersebut.
Begitupun, mereka juga tetap menganjurkan untuk menggunakan teknologi ini dalam batas wajar sekaligus memperhatikan penggunaan perangkat komputer yang juga memiliki intensitas radiasi elektromagnetik yang berbeda-beda.
Paling tidak, penggunaan dalam batasan wajar ini bisa mencegah pengaruh buruk terhadap kesehatan yang bisajadi kepastiannya baru ditemukan dalam tahun-tahun mendatang.
Sumber: CBN
Koktail Jambu Putih, Baik Dikonsumsi Penderita Diare
Koktail Jambu Putih, Baik Dikonsumsi Penderita Diare
Health News Sun, 06 Apr 2008 10:00:00 WIB
Bogor - Jambu biji merah kerap diburu karena diyakini memiliki khasiat untuk kesehatan, tapi jambu biji putih juga memiliki khasiat yang sama. Bila jambu biji merah diyakini dapat merangsang pertumbuhan trombosit darah, jambu biji putih diyakini sebagai obat pencegah dan bahkan menyembuhkan diare. Namun dibutuhkan pengolahan khusus sebelum dikonsumsi yakni dalam bentuk minuman koktail jambu.
Proses pembuatan koktail jambu putih ini terbilang cukup mudah. Jambu dikupas terlebih dahulu sebelum dipotong-potong dan dipisahkan antara daging dan bijinya. Setelah jambu menjadi potongan kecil berukuran 1 x 1 centimeter kemudian dicuci dalam air mengalir untuk menghilangkan getahnya.
Jambu kemudian dikukus sekitar 3 sampai 5 menit diatas air mendidih dan lalu diberi gula dan dibungkus dalam paket gelas. Berbeda dengan jambu merah yang bisa merangsang pertumbuhan trombosit dalam darah penderita DBD, jambu putih ini diyakini bisa mempercepat proses penyembuhan bagi para penderita diare.
Meski sudah berhasil membentuk usaha kecil mandiri, namun para ibu dari kalangan keluarga miskin di kelurahan Sukadamai, Kecamatan Tanah Sereal Bogor ini masih mengalami kesulitan dalam pemasaran. Selama ini para perajin masih melayani pesanan terbatas saja, sementara untuk dijual secara umum masih menunggu ijin dari Depkes. (Iwan Kurniawan/Sup)
Sumber: Indosiar.com
Health News Sun, 06 Apr 2008 10:00:00 WIB
Bogor - Jambu biji merah kerap diburu karena diyakini memiliki khasiat untuk kesehatan, tapi jambu biji putih juga memiliki khasiat yang sama. Bila jambu biji merah diyakini dapat merangsang pertumbuhan trombosit darah, jambu biji putih diyakini sebagai obat pencegah dan bahkan menyembuhkan diare. Namun dibutuhkan pengolahan khusus sebelum dikonsumsi yakni dalam bentuk minuman koktail jambu.
Proses pembuatan koktail jambu putih ini terbilang cukup mudah. Jambu dikupas terlebih dahulu sebelum dipotong-potong dan dipisahkan antara daging dan bijinya. Setelah jambu menjadi potongan kecil berukuran 1 x 1 centimeter kemudian dicuci dalam air mengalir untuk menghilangkan getahnya.
Jambu kemudian dikukus sekitar 3 sampai 5 menit diatas air mendidih dan lalu diberi gula dan dibungkus dalam paket gelas. Berbeda dengan jambu merah yang bisa merangsang pertumbuhan trombosit dalam darah penderita DBD, jambu putih ini diyakini bisa mempercepat proses penyembuhan bagi para penderita diare.
Meski sudah berhasil membentuk usaha kecil mandiri, namun para ibu dari kalangan keluarga miskin di kelurahan Sukadamai, Kecamatan Tanah Sereal Bogor ini masih mengalami kesulitan dalam pemasaran. Selama ini para perajin masih melayani pesanan terbatas saja, sementara untuk dijual secara umum masih menunggu ijin dari Depkes. (Iwan Kurniawan/Sup)
Sumber: Indosiar.com
Fatal, Salah Menggunakan Antibiotik
Fatal, Salah Menggunakan Antibiotik
Health News Mon, 07 Apr 2008 16:00:00 WIB
Kita tahu antibiotik merupakan obat mujarab untuk menghilangkan rasa sakit. Tapi tidak semua orang tahu bahwa antibiotik tidak bisa digunakan untuk mengobati semua penyakit alias tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Salah-salah bisa berakibat fatal atau sampai kepada alergi terhadap antibiotik.
Sayangnya, masyarakat justru mengindahkan penggunaan bahwa antibiotik tidak boleh digunakan secara sembarangan. Ketika demam dan flu menyerang, obat antibiotik selalu menjadi rujukan. Bahkan luka terjatuhpun tidak lengkap obat jika tanpa antibiotik.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia DR. Dr. Fachmi Idris, M.Kes menjelaskan, bahan antibiotik pertama ditemukan Alexander Fleming pada 1928. Kemudian, pada 1940-an antibiotik mulai digunakan secara luas. Waktu itu, para ilmuwan dunia memprediksi, dengan ditemukannya antibiotik, pada 1960-an dunia diprediksi bersih dari penyakit infeksi.
Namun, bukannya penyakit infeksi teratasi, justru jenis bakteri baru muncul akibat resistensi terhadap penggunaan antibiotik. Bahkan, pada 1990, kata Fachmi, pernah terjadi post antibiotika era. "Suatu keadaan yang antibiotik tidak berfungsi lagi. "Waktu itu, di antara 20 jenis antibiotik yang ada, hanya satu yang bisa mengobati penyakit infeksi,"jelasnya.
Pada 2001, World Health Organization (WHO) menyampaikan keprihatinan yang tinggi terhadap perkembangan bakteri resisten. WHO pun menyatakan global alert atau perang melawan bakteri resisten.
Fachmi juga mengungkapkan, penelitian di dua rumah sakit besar di Jawa Timur dan Jawa Tengah pada 2001 menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik secara tidak bijak mencapai 80 persen. Kasus di RSU dr Soetomo, lanjut Kuntaman, angka resisten terhadap antibiotik lini pertama (penyakit infeksi ringan) bisa mencapai 90 persen dan lini kedua (infeksi sedang) mendekati 50 persen. Dalam disertasinya yang dirilis beberapa waktu lalu, Kuntaman juga menyebutkan, angka bakteri penghasil extended spectrum beta lactamase (ESBL, jenis bakteri yang sulit diobati) mencapai 29 hingga 36 persen. "Bandingkan dengan Belanda yang angkanya kurang dari satu persen," sebut pria yang bekerja di laboratorium mikrobiologi RSU dr Soetomo itu.
Karena itu, bila antibiotik tidak digunakan secara tepat, post antibiotika era diprediksi bisa terjadi pada masa depan. "Bayangkan saja, bila tidak ada satu pun obat yang mampu mengatasi penyakit infeksi," ujarnya.
Menurut Fachmi, tingginya penggunaan antibiotik di rumah sakit akan meningkatkan angka resistensi bakteri di tempat itu. "Yang pada akhirnya menyulitkan terapi," tegasnya. Bahkan, bakteri lebih mudah mutasi, yang berarti lebih cepat resisten terhadap berbagai antibiotik.
Prof dr R Bambang Wirjatmadi MS MCN PhD SpGK, pengajar gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair, menjelaskan, antibiotik adalah obat yang dapat digunakan untuk membunuh kuman, virus, cacing, protozoa, dan jamur. "Biasanya, jika mengalami sakit dan disebabkan beberapa hal tersebut, obatnya antibiotik," ujar Bambang.
Tidak hanya itu. Antibiotik dibutuhkan saat seseorang sakit disertai demam. Jika sakitnya tidak disertai demam, belum tentu mereka membutuhkan antibiotik. Agar tidak sembarangan dalam penggunaannya, sebaiknya masyarakat mengetahui jenis antibiotik. Di antaranya, tetracyclin yang digunakan untuk infeksi, sakit gigi, dan luka. Jenis chloramphenicol digunakan untuk penyakit tifus. Jenis griseofulfin digunakan untuk membunuh jamur serta combantrin untuk membunuh cacing.
Ada juga narrow spectrum,yang berguna untuk membunuh jenis bakteri secara spesifik. Antibiotik yang tergolong narrow spectrum adalah ampicillin dan amoxycilin. Jenis kedua ialah broad spectrum untuk membunuh semua jenis bakteri di dalam tubuh. "Dianjurkan untuk menghindari mengonsumsi antibiotik jenis ini," jelasnya.
Sebab, jenis antibiotik itu juga membunuh bakteri lainnya yang sangat berguna untuk tubuh. Antibiotik yang termasuk kategori itu adalah cephalosporin. Penyakit yang disebabkan virus tidak dapat diberikan antibiotik. Misalnya, sakit flu atau pilek. Sebab, antibiotik tidak dapat membunuh virus karena virus dapat mati sendiri, asal daya tahan tubuh penderita meningkat atau membaik. Meski begitu, dalam perkembangannya, saat ini ada antibiotik yang dikembangkan untuk membunuh virus.
Namun itu justru akan membahayakan. Penggunaan antibiotik tidak pada tempatnya dan berlebihan dapat membahayakan kesehatan. Misalnya, mengakibatkan gangguan saluran pencernaan (diare, mual, muntah). Khawatir masyarakat awam yang tidak paham, mempergunakan dosis antibiotik ini untuk segala jenis penyakit.
Penderita bisa mengalami reaksi alergi. Mulai yang ringan seperti ruam dan gatal hingga berat seperti pembengkakan bibir, kelopak mata, sampai gangguan napas. Sebab, bisa jadi penderita alergi dengan antibiotik tersebut.
Efek yang terjadi bisa ringan hingga berat. Pasien bisa mengalami anaphylatic shock atau shock karena penggunaan antibiotik tersebut. Lebih berbahaya lagi, obat itu juga bisa mengakibatkan kelainan hati. Seperti diketahui, antibiotik memiliki bahan dasar kimia. Selain berfungsi membunuh kuman, bahan kimia tersebut harus dinetralkan tubuh supaya aman. Caranya adalah dengan memecah bahan kimia itu.
Karena itu, masyarakat luas perlu memahami fungsi dan kemampuan dari obat antibiotik. Baik waktu pemakaian maupun dosis. Dengan demikian, pemakaian bisa dilakukan secara tepat dan rasional.
Dalam kasus ini yang paling memahami adalah kalangan medis. "Termasuk, upaya pemerintah dalam melakukan pengawasan di lapangan supaya antibiotik tidak beredar secara bebas," kata Fachmi. Karena sebagai regulator, posisinya bisa mencegah penjualan antibiotika secara bebas di pasar.(Her/Ijs)
Sumber: Indosiar.com
Health News Mon, 07 Apr 2008 16:00:00 WIB
Kita tahu antibiotik merupakan obat mujarab untuk menghilangkan rasa sakit. Tapi tidak semua orang tahu bahwa antibiotik tidak bisa digunakan untuk mengobati semua penyakit alias tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Salah-salah bisa berakibat fatal atau sampai kepada alergi terhadap antibiotik.
Sayangnya, masyarakat justru mengindahkan penggunaan bahwa antibiotik tidak boleh digunakan secara sembarangan. Ketika demam dan flu menyerang, obat antibiotik selalu menjadi rujukan. Bahkan luka terjatuhpun tidak lengkap obat jika tanpa antibiotik.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia DR. Dr. Fachmi Idris, M.Kes menjelaskan, bahan antibiotik pertama ditemukan Alexander Fleming pada 1928. Kemudian, pada 1940-an antibiotik mulai digunakan secara luas. Waktu itu, para ilmuwan dunia memprediksi, dengan ditemukannya antibiotik, pada 1960-an dunia diprediksi bersih dari penyakit infeksi.
Namun, bukannya penyakit infeksi teratasi, justru jenis bakteri baru muncul akibat resistensi terhadap penggunaan antibiotik. Bahkan, pada 1990, kata Fachmi, pernah terjadi post antibiotika era. "Suatu keadaan yang antibiotik tidak berfungsi lagi. "Waktu itu, di antara 20 jenis antibiotik yang ada, hanya satu yang bisa mengobati penyakit infeksi,"jelasnya.
Pada 2001, World Health Organization (WHO) menyampaikan keprihatinan yang tinggi terhadap perkembangan bakteri resisten. WHO pun menyatakan global alert atau perang melawan bakteri resisten.
Fachmi juga mengungkapkan, penelitian di dua rumah sakit besar di Jawa Timur dan Jawa Tengah pada 2001 menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik secara tidak bijak mencapai 80 persen. Kasus di RSU dr Soetomo, lanjut Kuntaman, angka resisten terhadap antibiotik lini pertama (penyakit infeksi ringan) bisa mencapai 90 persen dan lini kedua (infeksi sedang) mendekati 50 persen. Dalam disertasinya yang dirilis beberapa waktu lalu, Kuntaman juga menyebutkan, angka bakteri penghasil extended spectrum beta lactamase (ESBL, jenis bakteri yang sulit diobati) mencapai 29 hingga 36 persen. "Bandingkan dengan Belanda yang angkanya kurang dari satu persen," sebut pria yang bekerja di laboratorium mikrobiologi RSU dr Soetomo itu.
Karena itu, bila antibiotik tidak digunakan secara tepat, post antibiotika era diprediksi bisa terjadi pada masa depan. "Bayangkan saja, bila tidak ada satu pun obat yang mampu mengatasi penyakit infeksi," ujarnya.
Menurut Fachmi, tingginya penggunaan antibiotik di rumah sakit akan meningkatkan angka resistensi bakteri di tempat itu. "Yang pada akhirnya menyulitkan terapi," tegasnya. Bahkan, bakteri lebih mudah mutasi, yang berarti lebih cepat resisten terhadap berbagai antibiotik.
Prof dr R Bambang Wirjatmadi MS MCN PhD SpGK, pengajar gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair, menjelaskan, antibiotik adalah obat yang dapat digunakan untuk membunuh kuman, virus, cacing, protozoa, dan jamur. "Biasanya, jika mengalami sakit dan disebabkan beberapa hal tersebut, obatnya antibiotik," ujar Bambang.
Tidak hanya itu. Antibiotik dibutuhkan saat seseorang sakit disertai demam. Jika sakitnya tidak disertai demam, belum tentu mereka membutuhkan antibiotik. Agar tidak sembarangan dalam penggunaannya, sebaiknya masyarakat mengetahui jenis antibiotik. Di antaranya, tetracyclin yang digunakan untuk infeksi, sakit gigi, dan luka. Jenis chloramphenicol digunakan untuk penyakit tifus. Jenis griseofulfin digunakan untuk membunuh jamur serta combantrin untuk membunuh cacing.
Ada juga narrow spectrum,yang berguna untuk membunuh jenis bakteri secara spesifik. Antibiotik yang tergolong narrow spectrum adalah ampicillin dan amoxycilin. Jenis kedua ialah broad spectrum untuk membunuh semua jenis bakteri di dalam tubuh. "Dianjurkan untuk menghindari mengonsumsi antibiotik jenis ini," jelasnya.
Sebab, jenis antibiotik itu juga membunuh bakteri lainnya yang sangat berguna untuk tubuh. Antibiotik yang termasuk kategori itu adalah cephalosporin. Penyakit yang disebabkan virus tidak dapat diberikan antibiotik. Misalnya, sakit flu atau pilek. Sebab, antibiotik tidak dapat membunuh virus karena virus dapat mati sendiri, asal daya tahan tubuh penderita meningkat atau membaik. Meski begitu, dalam perkembangannya, saat ini ada antibiotik yang dikembangkan untuk membunuh virus.
Namun itu justru akan membahayakan. Penggunaan antibiotik tidak pada tempatnya dan berlebihan dapat membahayakan kesehatan. Misalnya, mengakibatkan gangguan saluran pencernaan (diare, mual, muntah). Khawatir masyarakat awam yang tidak paham, mempergunakan dosis antibiotik ini untuk segala jenis penyakit.
Penderita bisa mengalami reaksi alergi. Mulai yang ringan seperti ruam dan gatal hingga berat seperti pembengkakan bibir, kelopak mata, sampai gangguan napas. Sebab, bisa jadi penderita alergi dengan antibiotik tersebut.
Efek yang terjadi bisa ringan hingga berat. Pasien bisa mengalami anaphylatic shock atau shock karena penggunaan antibiotik tersebut. Lebih berbahaya lagi, obat itu juga bisa mengakibatkan kelainan hati. Seperti diketahui, antibiotik memiliki bahan dasar kimia. Selain berfungsi membunuh kuman, bahan kimia tersebut harus dinetralkan tubuh supaya aman. Caranya adalah dengan memecah bahan kimia itu.
Karena itu, masyarakat luas perlu memahami fungsi dan kemampuan dari obat antibiotik. Baik waktu pemakaian maupun dosis. Dengan demikian, pemakaian bisa dilakukan secara tepat dan rasional.
Dalam kasus ini yang paling memahami adalah kalangan medis. "Termasuk, upaya pemerintah dalam melakukan pengawasan di lapangan supaya antibiotik tidak beredar secara bebas," kata Fachmi. Karena sebagai regulator, posisinya bisa mencegah penjualan antibiotika secara bebas di pasar.(Her/Ijs)
Sumber: Indosiar.com
ADA APA DENGAN KANTUNG PLASTIK ?
ADA APA DENGAN KANTUNG PLASTIK ?
· Dalam satu tahun, 1 triliun kantong plastik digunakan oleh dunia.
· Setiap orang menggunakan sekitar 170 kantong plastik tiap tahun.
Ini berarti setiap satu menit-nya 2 juta kantong plastik yang dibuang
· Kantung plastik terbuat dari polyethene (PE), suatu bahan thermoplastic yang lebih dari 60
juta ton bahan ini diproduksi setiap tahun di seluruh dunia terutama menjadi kantung plastik.
· Untuk memproduksi 1 ton plastik diperlukan 11 barel minyak mentah (BBM)
· Di negara-negara maju, penggunaan plastic shopping bags (kantung plastik belanjaan)
di toko dan supermarket mulai dibatasi dan digantikan dengan paper bags (kantung kertas)
yang terbuat dari kertas yang dapat didaur-ulang.
sDi San Francisco (AS), toko & supermarket yang masih menyediakan kantung plastik dikenakan denda $100
(hampir Rp 1 juta) untuk pelanggaran pertama kali, dan meningkat denda $200 untuk pelanggaran berikutnya
dan jika masih melanggar dikenanakan denda $500.
s Di Australia, toko-toko menjual "green bags" seharga satu dollar saja namun bisa dipakai berkali-kali.
s Di Perancis, supermarket (seperti Carrefour) "memaksa" konsumennya untuk membeli plastik yang dapat
dipakai berulang (reusable plastic) dan Tas kain non-tenun (non-woven bags).
sDi Inggris, beberapa toko besar (seperti Tesco dengan "Green Bag Scheme") memberi discount khusus senilai
1-4 Poundsterling bagi pembeli yang membawa sendiri Tas dari rumah.
Apa "Dosa" Kantung Plastik, sehingga kita harus mengurangi pemakaian Kantung Plastik ?
Œ Kantung plastik tergolong "barang sekali pakai" (single-use plastic shopping bags)
sehingga memperbanyak Sampah. Kalau kita belanja bulanan di supermarket, sekali
belanja kita akan "dihadiahi" paling sedikit 4 kantung plastik dalam berbagai ukuran.
v Jakarta menghasilkan sekitar 6.000 ton sampah setiap hari, yang lebih dari setengahnya
adalah sampak non-organik terutama plastik dan kertas.
v Sampah kantong plastik yang dibuang di Jakarta dapat menutupi 2600 lapangan sepakbola.
Baru bisa terurai di alam (biodegradble) dalam waktu 500 - 1.000 tahun, sehingga jika
tercecer di tanah akan merusak lingkungan (menghambat peresapan air yang
menyebabkan banjir dan merusak kesuburan tanah).
v Pemerintah Bangladesh melarang kantung plastik karena dianggap sebagai penyebab
banjir karena menyumbat saluran pembuangan air di musim hujan.
Ž Sekitar 3% plastik di dunia berakhir sebagai sampah yang terapung-apung di permukaan
air, termasuk di laut yang menyebabkan kematian banyak ikan paus dan penyu karena
sampah plastik tersangkut di pencernaan mereka
Hanya 1% saja Kantung plastik bekas yang dapat didaur ulang, terutama karena sulitnya
memilah berbagai jenis plastik yang digunakan dan tak sebandingnya biaya recycle
dengan harga jual produk recycle, sehingga hampir semua kantung plastik tinggal menjadi
sampah. Pemulung saja ogah ambil sampah kantung plastik !
Untuk memproduksi plastik, setiap satu tahunnya diperlukan 12 juta barel minyakyang
menghasilkan emisi gas rumah kaca perusak lapisan ozon (ditambah lagi sekarang
terjadi krisis minyak yang mengakibatkan melambungnya harga BBM)
Seorang Pemulung yang sedang naik perahu mengumpulkan sampah di sungai di Jakarta yang dipenuhi Sampah, termasuk sampah kantung plastik
Bhutan, negara kecil di pegunungan Himalaya (di Asia Tengah dekat India) dalam Peringkat Kebahagiaan Dunia dinyatakan sebagai "negara berkembang yang penduduknya paling berbahagia" di dunia. Pemerintah Bhutan melarang Kantung Plastik dan Rokok karena memandang produk itu membuat warganya tidak bahagia.
Apa yang Bisa Kita Lakukan ?
Bantu selamatkan bumi dengan membawa Tas sendiri saat berbelanja ke supermarket
atau ke pasar tradisional (Ingatlah "kebiasaan baik" dari Ibu atau Nenek kita yang dulu
ketika berbelanja ke pasar tradisional, selalu membawa sendiri Tas Belanja dari rumah)
‚ Sebaiknya gunakan Tas Ramah Lingkungan yang terbuat dari bahan kain yang dapat
didaur-ulang (seperti Tas Belanja Ramah-Lingkungan "Lestari Lingkunganku")
Kini mulai tersedia "Kantung Plastik Ramah Lingkungan" (Bio-Degradable Plastic Bag)
yang terbuat dari tepung singkong (maizena) dan dapat terurai 6 bulan sampai 5 tahun
(bandingkan dengan plastik biasa yang baru terurai setelah 500 – 1.000 tahun). Namun ketersediaannya
masih terbatas dan masih mahal (Rp. 1.000 per lembar)
ƒBawalah selalu Tas Ramah Lingkungan itu (di mobil atau di motor) sehingga selalu
tersedia kapanpun Anda membutuhkannya. Jadi tidak alasan, Anda "terpaksa" menerima
kantung plastik
„ Jika hanya membeli sedikit, mulailah mau/berani menolak "pemberian" kantung plastik
dari toko dan masukkan barang belanjaan ke dalam tas Anda. Ingat, kantung kresek
adalah "bonus" yang tak berguna
…Kurangi penggunaan kantong plastik kresek SEKARANG JUGA
Jika belum dapat menghentikan secara total, lakukanlah secara bertahap, misalnya hanya
untuk digunakan untuk membuang sampah di tempat sampah (menjadi plastik sampah / trash bags)
† Jangan jadi "penimbun" dan "kolektor" kantung plastik tak terpakai yang memenuhi rumah
Anda. Segera enyahkan dari rumah alias "cuci gudang"(*caranya lihat di bawah).
‡Anjurkan keluarga, teman, dan tetangga untuk mengurangi pemakaian kantung plastik,
dengan menjelaskan bahaya-bahaya yang ditimbulkannya. Jadilah "agen" penyelamat lingkungan.
Tas Belanja Ramah-Lingkungan
Acara "Lestari Lingkunganku"
Made in Summarecon
Lalu dikemanakan kantung plastik yang masih saya simpan ?
Daripada dibuang merusak lingkungan, maka sumbangkan saja ke Program Daur Ulang Tzu Chi bersama-sama sumbangan sampah daur ulang lain (kertas, botol, kaleng, dll).
Biarlah Depo Daur Ulang yang akan "membereskan" masalah sampah kantung plastik Anda.
Dengan berbuat ini, Anda mendapat manfaat ganda, yaitu :
JTurut peduli lingkungan, dengan tidak "mewariskan" sampah plastik perusak lingkungan
JBerbuat amal kebajikan karena hasil daur ulang Tzu Chi digunakan untuk kegiatan sosial (pengobatan & pendidikan bagi masyarakat kurang mampu)
Dengan merubah kebiasaan kecil,
Kita akan berkontribusi dalam
pelestarian lingkungan
· Dalam satu tahun, 1 triliun kantong plastik digunakan oleh dunia.
· Setiap orang menggunakan sekitar 170 kantong plastik tiap tahun.
Ini berarti setiap satu menit-nya 2 juta kantong plastik yang dibuang
· Kantung plastik terbuat dari polyethene (PE), suatu bahan thermoplastic yang lebih dari 60
juta ton bahan ini diproduksi setiap tahun di seluruh dunia terutama menjadi kantung plastik.
· Untuk memproduksi 1 ton plastik diperlukan 11 barel minyak mentah (BBM)
· Di negara-negara maju, penggunaan plastic shopping bags (kantung plastik belanjaan)
di toko dan supermarket mulai dibatasi dan digantikan dengan paper bags (kantung kertas)
yang terbuat dari kertas yang dapat didaur-ulang.
sDi San Francisco (AS), toko & supermarket yang masih menyediakan kantung plastik dikenakan denda $100
(hampir Rp 1 juta) untuk pelanggaran pertama kali, dan meningkat denda $200 untuk pelanggaran berikutnya
dan jika masih melanggar dikenanakan denda $500.
s Di Australia, toko-toko menjual "green bags" seharga satu dollar saja namun bisa dipakai berkali-kali.
s Di Perancis, supermarket (seperti Carrefour) "memaksa" konsumennya untuk membeli plastik yang dapat
dipakai berulang (reusable plastic) dan Tas kain non-tenun (non-woven bags).
sDi Inggris, beberapa toko besar (seperti Tesco dengan "Green Bag Scheme") memberi discount khusus senilai
1-4 Poundsterling bagi pembeli yang membawa sendiri Tas dari rumah.
Apa "Dosa" Kantung Plastik, sehingga kita harus mengurangi pemakaian Kantung Plastik ?
Œ Kantung plastik tergolong "barang sekali pakai" (single-use plastic shopping bags)
sehingga memperbanyak Sampah. Kalau kita belanja bulanan di supermarket, sekali
belanja kita akan "dihadiahi" paling sedikit 4 kantung plastik dalam berbagai ukuran.
v Jakarta menghasilkan sekitar 6.000 ton sampah setiap hari, yang lebih dari setengahnya
adalah sampak non-organik terutama plastik dan kertas.
v Sampah kantong plastik yang dibuang di Jakarta dapat menutupi 2600 lapangan sepakbola.
Baru bisa terurai di alam (biodegradble) dalam waktu 500 - 1.000 tahun, sehingga jika
tercecer di tanah akan merusak lingkungan (menghambat peresapan air yang
menyebabkan banjir dan merusak kesuburan tanah).
v Pemerintah Bangladesh melarang kantung plastik karena dianggap sebagai penyebab
banjir karena menyumbat saluran pembuangan air di musim hujan.
Ž Sekitar 3% plastik di dunia berakhir sebagai sampah yang terapung-apung di permukaan
air, termasuk di laut yang menyebabkan kematian banyak ikan paus dan penyu karena
sampah plastik tersangkut di pencernaan mereka
Hanya 1% saja Kantung plastik bekas yang dapat didaur ulang, terutama karena sulitnya
memilah berbagai jenis plastik yang digunakan dan tak sebandingnya biaya recycle
dengan harga jual produk recycle, sehingga hampir semua kantung plastik tinggal menjadi
sampah. Pemulung saja ogah ambil sampah kantung plastik !
Untuk memproduksi plastik, setiap satu tahunnya diperlukan 12 juta barel minyakyang
menghasilkan emisi gas rumah kaca perusak lapisan ozon (ditambah lagi sekarang
terjadi krisis minyak yang mengakibatkan melambungnya harga BBM)
Seorang Pemulung yang sedang naik perahu mengumpulkan sampah di sungai di Jakarta yang dipenuhi Sampah, termasuk sampah kantung plastik
Bhutan, negara kecil di pegunungan Himalaya (di Asia Tengah dekat India) dalam Peringkat Kebahagiaan Dunia dinyatakan sebagai "negara berkembang yang penduduknya paling berbahagia" di dunia. Pemerintah Bhutan melarang Kantung Plastik dan Rokok karena memandang produk itu membuat warganya tidak bahagia.
Apa yang Bisa Kita Lakukan ?
Bantu selamatkan bumi dengan membawa Tas sendiri saat berbelanja ke supermarket
atau ke pasar tradisional (Ingatlah "kebiasaan baik" dari Ibu atau Nenek kita yang dulu
ketika berbelanja ke pasar tradisional, selalu membawa sendiri Tas Belanja dari rumah)
‚ Sebaiknya gunakan Tas Ramah Lingkungan yang terbuat dari bahan kain yang dapat
didaur-ulang (seperti Tas Belanja Ramah-Lingkungan "Lestari Lingkunganku")
Kini mulai tersedia "Kantung Plastik Ramah Lingkungan" (Bio-Degradable Plastic Bag)
yang terbuat dari tepung singkong (maizena) dan dapat terurai 6 bulan sampai 5 tahun
(bandingkan dengan plastik biasa yang baru terurai setelah 500 – 1.000 tahun). Namun ketersediaannya
masih terbatas dan masih mahal (Rp. 1.000 per lembar)
ƒBawalah selalu Tas Ramah Lingkungan itu (di mobil atau di motor) sehingga selalu
tersedia kapanpun Anda membutuhkannya. Jadi tidak alasan, Anda "terpaksa" menerima
kantung plastik
„ Jika hanya membeli sedikit, mulailah mau/berani menolak "pemberian" kantung plastik
dari toko dan masukkan barang belanjaan ke dalam tas Anda. Ingat, kantung kresek
adalah "bonus" yang tak berguna
…Kurangi penggunaan kantong plastik kresek SEKARANG JUGA
Jika belum dapat menghentikan secara total, lakukanlah secara bertahap, misalnya hanya
untuk digunakan untuk membuang sampah di tempat sampah (menjadi plastik sampah / trash bags)
† Jangan jadi "penimbun" dan "kolektor" kantung plastik tak terpakai yang memenuhi rumah
Anda. Segera enyahkan dari rumah alias "cuci gudang"(*caranya lihat di bawah).
‡Anjurkan keluarga, teman, dan tetangga untuk mengurangi pemakaian kantung plastik,
dengan menjelaskan bahaya-bahaya yang ditimbulkannya. Jadilah "agen" penyelamat lingkungan.
Tas Belanja Ramah-Lingkungan
Acara "Lestari Lingkunganku"
Made in Summarecon
Lalu dikemanakan kantung plastik yang masih saya simpan ?
Daripada dibuang merusak lingkungan, maka sumbangkan saja ke Program Daur Ulang Tzu Chi bersama-sama sumbangan sampah daur ulang lain (kertas, botol, kaleng, dll).
Biarlah Depo Daur Ulang yang akan "membereskan" masalah sampah kantung plastik Anda.
Dengan berbuat ini, Anda mendapat manfaat ganda, yaitu :
JTurut peduli lingkungan, dengan tidak "mewariskan" sampah plastik perusak lingkungan
JBerbuat amal kebajikan karena hasil daur ulang Tzu Chi digunakan untuk kegiatan sosial (pengobatan & pendidikan bagi masyarakat kurang mampu)
Dengan merubah kebiasaan kecil,
Kita akan berkontribusi dalam
pelestarian lingkungan
Diare Pembunuh Nomor Dua Anak Balita
Yang tak kalah membahayakan, kata Yati, ada kecenderungan pemberian
antibiotik kepada pasien dan penderita diare secara sembarangan atau
berlebihan. Padahal ini justru membuat resistan pada penyakit diare tersebut.
"Padahal diare cukup dilawan dengan oralit," katanya
menjelaskan."
Kamis, 19 Juni 2008
Berita Utama-Jateng
Diare Pembunuh Nomor Dua Anak Balita
YOGYAKARTA - Penyakit diare menjadi penyebab utama nomor dua kematian pada anak
usia 6 bulan hingga 2 tahun. Penyebabnya, pemberian antibiotik. "Penyakit
itu selalu kejar-kejaran dengan radang paru-paru, yang menjadi penyebab
kematian nomor satu dan dua pada anak," kata Prof Dr Srisupar Yati
Soenarto, PhD, Sp.AK, dalam konferensi pers setelah pidato pengukuhan guru
besar di Balai Senat Universitas Gadjah Mada kemarin.
Penelitian Translasional dan Kebijakan Berbasis Bukti: Diare pada Anak Sebagai
Studi Kasus, yang dilakukan Yati menyebut penyebab diare bermacam-macam, di
antaranya, infeksi telinga, AIDS, radang otak, dan TB. Penyakit itu diikuti
diare, yang menyebabkan penderita meninggal akibat kekurangan cairan atau
dehidrasi.
Yang tak kalah membahayakan, kata Yati, ada kecenderungan pemberian antibiotik
kepada pasien dan penderita diare secara sembarangan atau berlebihan. Padahal
ini justru membuat resistan pada penyakit diare tersebut. "Padahal diare
cukup dilawan dengan oralit," katanya menjelaskan.
Yati mengungkapkan sebuah penelitian di lima provinsi di Indonesia pada 2003
menunjukkan penggunaan antibiotik untuk balita diare mencapai 85 persen.
Sedangkan Departemen Kesehatan pada 1987 mencatat ada 88 persen. Adapun
penelitiannya bersama mahasiswa pada 2007 itu menunjukkan hampir 100 persen
penggunaan antibiotik tidak rasional. "Pada pasien rawat inap di Rumah
Sakit Sardjito, ada 31 persen," katanya.
Anggota staf Epidemiologi Klinik dan Biostatistik Fakultas Kedokteran UGM,
Wahyu Damayanti, yang mendampingi Yati dan menjadi salah satu peneliti,
menambahkan, "Antibiotik bisa menjadi penyebab diare karena kuman baik dan
jahat menjadi tidak seimbang," katanya.
Karena diare dianggap penyakit berbahaya, butuh cara tepat mengatasinya. Dalam
program nasional penanggulangan diare bersama International Zinc Task Force,
kata Yati, dari oralit yang dianggap bukan obat, diputuskan penggunaan zinc
sebagai obat yang diresepkan oleh dokter dan diharapkan bisa mengganti
antibiotik. "Kami sudah menggandeng industri obat untuk memproduksi zinc
pada 2008," katanya. BERNARDA RURIT
sumber : koran tempo
antibiotik kepada pasien dan penderita diare secara sembarangan atau
berlebihan. Padahal ini justru membuat resistan pada penyakit diare tersebut.
"Padahal diare cukup dilawan dengan oralit," katanya
menjelaskan."
Kamis, 19 Juni 2008
Berita Utama-Jateng
Diare Pembunuh Nomor Dua Anak Balita
YOGYAKARTA - Penyakit diare menjadi penyebab utama nomor dua kematian pada anak
usia 6 bulan hingga 2 tahun. Penyebabnya, pemberian antibiotik. "Penyakit
itu selalu kejar-kejaran dengan radang paru-paru, yang menjadi penyebab
kematian nomor satu dan dua pada anak," kata Prof Dr Srisupar Yati
Soenarto, PhD, Sp.AK, dalam konferensi pers setelah pidato pengukuhan guru
besar di Balai Senat Universitas Gadjah Mada kemarin.
Penelitian Translasional dan Kebijakan Berbasis Bukti: Diare pada Anak Sebagai
Studi Kasus, yang dilakukan Yati menyebut penyebab diare bermacam-macam, di
antaranya, infeksi telinga, AIDS, radang otak, dan TB. Penyakit itu diikuti
diare, yang menyebabkan penderita meninggal akibat kekurangan cairan atau
dehidrasi.
Yang tak kalah membahayakan, kata Yati, ada kecenderungan pemberian antibiotik
kepada pasien dan penderita diare secara sembarangan atau berlebihan. Padahal
ini justru membuat resistan pada penyakit diare tersebut. "Padahal diare
cukup dilawan dengan oralit," katanya menjelaskan.
Yati mengungkapkan sebuah penelitian di lima provinsi di Indonesia pada 2003
menunjukkan penggunaan antibiotik untuk balita diare mencapai 85 persen.
Sedangkan Departemen Kesehatan pada 1987 mencatat ada 88 persen. Adapun
penelitiannya bersama mahasiswa pada 2007 itu menunjukkan hampir 100 persen
penggunaan antibiotik tidak rasional. "Pada pasien rawat inap di Rumah
Sakit Sardjito, ada 31 persen," katanya.
Anggota staf Epidemiologi Klinik dan Biostatistik Fakultas Kedokteran UGM,
Wahyu Damayanti, yang mendampingi Yati dan menjadi salah satu peneliti,
menambahkan, "Antibiotik bisa menjadi penyebab diare karena kuman baik dan
jahat menjadi tidak seimbang," katanya.
Karena diare dianggap penyakit berbahaya, butuh cara tepat mengatasinya. Dalam
program nasional penanggulangan diare bersama International Zinc Task Force,
kata Yati, dari oralit yang dianggap bukan obat, diputuskan penggunaan zinc
sebagai obat yang diresepkan oleh dokter dan diharapkan bisa mengganti
antibiotik. "Kami sudah menggandeng industri obat untuk memproduksi zinc
pada 2008," katanya. BERNARDA RURIT
sumber : koran tempo
Alunan musik dapat mempercepat pemulihan penderita stroke
Alunan musik dapat mempercepat pemulihan penderita stroke, demikian
hasil riset yang dilakukan tim peneliti dari Finlandia seperti dilansir
kantor berita Reuters, Rabu.
Penderita stroke yang rajin mendengarkan musik setiap hari, menurut
hasil riset itu, ternyata mengalami peningkatan pada ingatan verbalnya
dan memiliki mood yang lebih baik ketimbang penderita yang tidak menikmati musik.
Musik memang telah lama digunakan sebagai salah satu terapi kesehatan,
namun penelitian yang dimuat dalam jurnal Brain itu adalah riset
pertama yang membuktikan efeknya pada manusia.
"Temuan ini adalah bukti pertama bahwa mendengarkan musik pada tahap
awal pasca stroke dapat meningkatkan pemulihan daya kognitif dan
mencegah munculnya perasaan negatif," kata tim peneliti.
Stroke, yang muncul saat aliran darah ke otak tersumbat, dapat membuat
jaringan otak tak berfungsi. Penyakit ini adalah salah satu penyebab
utama kematian dan kelumpuhan permanen di dunia.
Riset tersebut melibatkan 60 orang sukarelawan yang baru saja mengalami stroke pada pembuluh darah tengah
di belahan kanan dan kiri otak. Stroke semacam ini dapat mempengaruhi
kendali motorik, kemampuan bicara dan sejumlah fungsi kognitif lainnya.
Para sukarelawan itu kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok diminta mendengarkan musik favorit atau buku audio mereka setiap hari, sementara kelompok yang lain tidak mendengarkan musik apapun.
Tiga bulan pasca serangan stroke, kelompok pendengar musik dan buku
audio menunjukkan peningkatan pada ingatan verbal mereka, masing-masing
60 persen dan 18 persen lebih baik ketimbang kelompok lainnya.
Kemampuan dalam memfokuskan perhatian juga meningkat 17 persen pada
mereka yang mendengarkan musik, ungkap Teppo Sarkamo, ahli psikologi
pada Unit Riset Otak Kognitif Universitas Helsinki yang mengepalai
riset tersebut.
Musik ditengarai dapat mengaktifkan mekanisme pada otak yang
memperbaiki dan memperbarui jaringan syaraf pasca serangan stroke, kata
Sarkamo.
Menurut dia, riset-riset lain diperlukan untuk lebih memahami apa yang
sebenarnya terjadi pada otak. Namun temuan ini, tambahnya, telah
memperlihatkan bahwa musik dapat digunakan sebagai salah satu terapi
tambahan yang murah dan mudah bagi penderita stroke.
"Riset ini dapat dianggap sebagai studi pendahuluan dan menjadi awal yang menjanjikan," kata Sarkamo. (*)
Sumber:
http://kesehatan.infogue.com/riset_terapi_musik_percepat_penyembuhan_stroke
Artikel kesehatan terhangat:
http://kesehatan.infogue.com/
hasil riset yang dilakukan tim peneliti dari Finlandia seperti dilansir
kantor berita Reuters, Rabu.
Penderita stroke yang rajin mendengarkan musik setiap hari, menurut
hasil riset itu, ternyata mengalami peningkatan pada ingatan verbalnya
dan memiliki mood yang lebih baik ketimbang penderita yang tidak menikmati musik.
Musik memang telah lama digunakan sebagai salah satu terapi kesehatan,
namun penelitian yang dimuat dalam jurnal Brain itu adalah riset
pertama yang membuktikan efeknya pada manusia.
"Temuan ini adalah bukti pertama bahwa mendengarkan musik pada tahap
awal pasca stroke dapat meningkatkan pemulihan daya kognitif dan
mencegah munculnya perasaan negatif," kata tim peneliti.
Stroke, yang muncul saat aliran darah ke otak tersumbat, dapat membuat
jaringan otak tak berfungsi. Penyakit ini adalah salah satu penyebab
utama kematian dan kelumpuhan permanen di dunia.
Riset tersebut melibatkan 60 orang sukarelawan yang baru saja mengalami stroke pada pembuluh darah tengah
di belahan kanan dan kiri otak. Stroke semacam ini dapat mempengaruhi
kendali motorik, kemampuan bicara dan sejumlah fungsi kognitif lainnya.
Para sukarelawan itu kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok diminta mendengarkan musik favorit atau buku audio mereka setiap hari, sementara kelompok yang lain tidak mendengarkan musik apapun.
Tiga bulan pasca serangan stroke, kelompok pendengar musik dan buku
audio menunjukkan peningkatan pada ingatan verbal mereka, masing-masing
60 persen dan 18 persen lebih baik ketimbang kelompok lainnya.
Kemampuan dalam memfokuskan perhatian juga meningkat 17 persen pada
mereka yang mendengarkan musik, ungkap Teppo Sarkamo, ahli psikologi
pada Unit Riset Otak Kognitif Universitas Helsinki yang mengepalai
riset tersebut.
Musik ditengarai dapat mengaktifkan mekanisme pada otak yang
memperbaiki dan memperbarui jaringan syaraf pasca serangan stroke, kata
Sarkamo.
Menurut dia, riset-riset lain diperlukan untuk lebih memahami apa yang
sebenarnya terjadi pada otak. Namun temuan ini, tambahnya, telah
memperlihatkan bahwa musik dapat digunakan sebagai salah satu terapi
tambahan yang murah dan mudah bagi penderita stroke.
"Riset ini dapat dianggap sebagai studi pendahuluan dan menjadi awal yang menjanjikan," kata Sarkamo. (*)
Sumber:
http://kesehatan.infogue.com/riset_terapi_musik_percepat_penyembuhan_stroke
Artikel kesehatan terhangat:
http://kesehatan.infogue.com/
Langganan:
Postingan (Atom)